Bagaimana Sejarah terbentuknya batu Opal dan unsur pembentuknya
Penjelasan sederhananya adalah opal terbentuk dari larutan silikon-dioksida dan air. Saat air mengalir ke dalam bumi, air ini membawa silika dari batu pasir, dan membawa larutan yang kaya akan silika ke dalam retakan batuan dan terjebak di dalamnya akibat lipatan bumi atau pelapukan fosil. Pada saat air yang membawa silika tersebut habis akan meninggalkan cadangan (deposit) silika, hal ini terjadi berulang-ulang selama jutaan tahun hingga opal terbentuk. Kadangkala ketika kondisi ideal terbentuk, butiran silika, larutan yang kaya mengandung silika dan terus mengalir ke dalam bumi akibat pengaruh gravitasi bumi hingga membentuk lapisan demi lapisan silika. Larutan ini dipercayai memiliki tingkat ketebalan 1 cm dalam jangka waktu 5 juta tahun di kedalaman 40 meter di bawah tanah.
Setiap ladang tambang opal atau tempat terjadinya opal harus menyediakan tempat, ruang, atau pori-pori (jauh dalam tanah) untuk dapat membentuk lapisan-lapisan silika yang selanjutnya membentuk opal. Pada batuan vulkanis (hasil gunung api) silika ini mengisi rekahan atau lubang-lubang pada batuan endapan yang diakibatkan oleh pelapukan batuan.
Sebagian besar deposit (cadangan) opal tidaklah begitu berharga, dalam dunia batu mulia (gemstone), opal ini disebut ‘potch’ oleh para penambangnya, atau disebut ‘common opal’ oleh para gemologist. Silika opaline tidak hanya mengisi ruang-ruang (pori-pori) dalam tanah tetapi juga mengisi ruang antara batuan yang satu dengan yang lain sehingga membentuk matriks. Jadi, penamaan opal ternyata berdasarkan proses terbentuknya opal itu sendiri jauh di dalam tanah.
Variasi terbentuknya opal inilah yang membuat berbagai varian opal dan akan tergantung pada sejumlah faktor. Cuaca kering dan basah juga mempengaruhi terbawanya larutan silika ke dalam tanah hingga membentuk opal dalam jangka waktu yang sangat lama (jutaan tahun). Sedangkan silika itu sendiri dihasilkan baik dari aktivitas vulkanis atau karena pelapukan sedimen jaman ‘Cretaceous’ dan kedua proses alam ini dapat menghasilkan silika dan kaolin seperti yang terlihat di tambang-tambang opal Australia. Kondisi tertentu yang dapat memperlambat aliran air yang mengandung larutan silika sehingga menciptakan situasi tertentu dalam tanah dan membentuk varian opal lainnya.
Kondisi yang berhubungan dengan proses kimia masih diselidiki apakah mempengaruhi terbentuknya opal di dalam tanah, ada yang menduga butiran-butiran silika yang terbentuk kemungkinan dihasilkan oleh aktivitas mikrobaJenis Opal
Terdapat beberapa jenis opal/kalimaya yang dikenal masyarakat umum seperti Opal Mulia (Precious Opal), Opal Hitam (Black Opal/Dark Opal), Opal Semi Hitam (Semi Black Opal), Opal Putih (White Opal), Opal Hitam Kristal (Black Crystal Opal), Opal Api (Fire Opal), dan sebagainya.
DI Indonesia Opal atau Kalimaya memiliki karakteristik yang unik dan berbeda dari batu permata lainnya. Struktur internal yang unik membuat batu Kalimaya lentur terhadap cahaya dan memancarkan aneka warna. Warna yang terkandung di batu Kalimaya biasanya warna putih yang dikombinasikan dengan warna abu-abu, merah, oranye, kuning, hijau, biru, magenta, mawar, merah muda, batu tulis, zaitun, cokelat, dan hitam.
Kalimaya yang memiliki perpaduan warna merah dan hitam merupakan jenis yang langka. Sedangkan Kalimaya yang memiliki perpaduan warna putih dan hijau merupakan jenis yang umum dan sering ditemukan.
Selain Australia dan Meksiko, sejumlah negara di belahan dunia juga diketahui menghasilkan batu Kalimaya seperti di Republik Ceko, Slowakia, Hungaria, Turki, Indonesia, Brasil, Honduras, Guatemala, Nikaragua dan Ethiopia.
No comments:
Post a Comment